Diberdayakan oleh Blogger.
 
Tampilkan postingan dengan label Cerita Budi Pekerti. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Budi Pekerti. Tampilkan semua postingan

Kisah Tukang Roti dan Mentega (Cerita Budi Pekerti)

Comments
Ada seorang pemilik kedai roti dalam jangka waktu yang panjang selalu membeli mentega dengan tetangganya seorang petani.

Pada suatu hari dia curiga, mentega yang dibeli beratnya 300 gram timbangannya tidak mencukupi. Oleh sebab itu setiap hari dia mulai menimbang mentega yang dibawa pulang.  Timbangannya selalu tidak cukup, dia merasa selama ini dia telah ditipu.

Dia sangat marah, lalu dia melaporkan kejadian ini kepada penegak hukum. kasus ini akhirnya sampai ke pengadilan.

Jaksa bertanya kepada petani, “Apakah engkau tidak mempunyai timbangan?”.

Petani menjawab, “Ada tuan Jaksa saya mempunyai sebuah timbangan.”

“Apakah engkau memakai biji timbangan yang akurat?” tuan jaksa bertanya lagi.

“Tidak, tuan jaksa, saya tidak memerlukan biji timbangan,”jawab petani.

“Tidak ada biji timbangan, bagaimana engkau menimbang mentega tersebut?”, tanya jaksa.

“Itu sih gampang,” jawab petani tersebut. “Selama ini pemilik roti membeli mentega saya, saya setiap hari juga membeli rotinya, saya mempergunakan roti yang saya beli sebagai biji timbangan untuk menimbang mentega yang dibeli olehnya. Jika memang biji timbangan tidak akurat itu bukan kesalahan saya, semua itu adalah kesalahan dia,” kata petani itu.

Oleh sebab itu jaksa memvonis petani  tidak bersalah dan melepaskannya, sedangkan pemilik kedai roti divonis membayar semua biaya pengadilan.

Setelah membaca cerita diatas, humor ini meninggalkan kesan bagaimana kita memperlakukan dunia, begitulah dunia memperlakukan kita. Bagaimana kita memperlakukan orang disekeliling kita, begitulah orang disekeliling kita memperlakukan kita.

Memberikan kepada orang lain barang terbaik yang kita miliki, maka engkau akan mendapatkan apa yang terbaik dari orang lain. Semakin banyak engkau membantu orang lain, balasan yang engkau dapatkan  semakin banyak, Anda semakin pelit, maka semakin tidak akan memiliki apapun. (minghuischool/hui/asr)

Sumber: http://www.erabaru.net/featured-news/48-hot-update/29829-kisah-tukang-roti-dan-mentega

Read more...

Desa Tanpa Suara

Comments
Ketika kita mendengar perkataan desa tanpa suara, didalam benak kita akan membayangkan sebuah desa yang sepi dan tenteram, tetapi ketika Susan sampai di desa tersebut, dia mendengar berbagai suara keributan, seperti pandai besi yang sedang memukul besi.

Di desa itu suara tukang perabot yang menggergaji papan juga terdengar, suara lonceng sado, suara dengkur orang tua, anak-anak yang membaca dengan suara keras, tukang sayur yang meneriaki dagangannya, suara tersebut sangat membisingkan telinga.   

Keanehan dari seluruh penduduk adalah kelihatannya sangat tenang, mereka seolah-olah tidak mendengar semua suara tersebut. “Apakah kalian semua tuli,?” Susan bertanya kepada seorang pemuda.

“Jika kami memang tuli, mana mungkin bisa mendengar perkataanmu?” jawab pemuda itu. “Kami semua memiliki pendengaran yang khusus, semua orang mengatakan ini adalah pendengaran khusus yang dimiliki terpidana hukuman mati,” kata pemuda itu. 

“Pendengaran khusus yang dimiliki terpidana hukuman mati? Apa artinya?,” Susan sangat penasaran mengejar pemuda tersebut bercerita terus, pemuda ini kemudian menceritakan sebuah cerita yang aneh. Pemuda itu mengatakan pada awalnya 20 orang yang tinggal didesa tanpa suara, mereka adalah terpidana hukuman mati beserta keluarga mereka. Cerita ini terjadi sudah lama sekali.

Dahulu ada seorang raja yang sangat percaya kepada Buddha, selalu mengundang biksu berceramah. Pada suatu hari setelah selesai berceramah biksu tiba-tiba meminta raja memilih 20 orang terpidana hukuman mati kehadapannya, dia membagikan kepada mereka masing-masing segelas air, meminta mereka meletakkan gelas tersebut diatas kepala mereka, berjalan mengelilingi taman dan kembali kehadapannya.

Biksu berkata kepada mereka, “Jika setelah kalian mengelilingi taman dapat pulang dengan air yang tidak tumpah dari gelas ini, saya akan meminta raja menghapus hukuman mati kalian.”

Demi membuat suasana tidak begitu tegang, biksu memanggil kelompok orchestra memainkan musik untuk mereka. Setelah beberapa waktu, terpidana mati ini satu persatu sampai ke tempat semula,  air yang terdapat digelas diatas kepala mereka setetespun tidak meluap keluar. Biksu bertanya kepada mereka, “Apakah kalian tadi mendengar suara musik?." Semua terpidana mati menjawab, “Tidak mendengar.”

Biksu lalu berkata kepada raja, “Terpidana mati  ini memiliki kemauan dan tekad yang besar demi mempertahankan hidup mereka. Seluruh perhatian mereka hanya terkonsentrasi kepada segelas air dikepala mereka, oleh sebab itu mereka tidak mendengar suara musik disebelah mereka.”

“Paduka, jika kelak paduka dapat memiliki kemauan yang besar dan hati yang teguh ini terhadapan ajaran Budha alangkah baiknya!,” kata biksu itu. Raja setelah mendengar perkataan biksu segera tersadar, dia lalu melepaskan semua terpidana mati ini, dia juga bertekad akan belajar dengan baik semua ajaran Budha.

Kedua puluh orang terpidana ini datang ke desa ini, memulai hidup baru mereka. Mereka sekarang juga sudah bertobat dan percaya kepada Budha, dan menyadari perbuatan mereka dahulu yang membunuh dan merampas kekayaan orang lain ada perbuat salah besar.

Oleh sebab itu mereka selalu mengajarkan kepada keturunan mereka “kehendak yang kuat dapat merubah indera, pikiran dan kehidupan seseorang.  Kalian sendiri harus mempunyai tekad yang kuat, jadilah tuan untuk diri sendiri, jangan membiarkan kehidupan duniawi mengotori hidup Anda.”

Setelah turun temurun, penduduk desa ini selalu mempunyai ketekadan berbuat baik  dan memiliki pendengaran yang khusus menampik semua suara kebisingan dari dunia ini, inilah asal usul “Desa Tanpa Suara” . Oleh sebab itu didesa tanpa suara ini Susan mengerti apa artinya, “Menjadi tuan atas diri sendiri.” (Mingxin/hui/asr)

Sumber: http://www.erabaru.net/featured-news/48-hot-update/29783-desa-tanpa-suara

Read more...

Kampung Halaman (Cerita Budi Pekerti)

Comments
Pada masa perang, ada seorang yang dibesarkan di negara Chu, aslinya dia berasal dari negara Yan, setelah semakin dewasa, dia selalu teringat kepada kampung halaman tempat dia dilahirkan, dia ingin berkeluarga di kampung halamannya sendiri, pada saat itu ketepatan ada seorang temannya yang ingin berniaga ke negara Yan, mereka berdua sepakat mengadakan perjalanan bersama ke negara Yan.

Setelah beberapa hari kemudian, mereka sampai disuatu tempat, temannya mengatakan bahwa mereka sudah sampai di negara Yan, segera akan sampai di kampung halamannya.

Setelah melanjutkan perjalanan beberapa saat kemudian, mereka melihat ada sebuah rumah adat, temannya berkata, “Lihat, dahulu ini adalah rumah adat leluhur kalian.”  Dia melihat rumah adat tersebut sudah reyot hatinya merasa sangat sedih.

Akhirnya mereka sampai disebuah kuburan, temannya berkata, “ini adalah kuburan leluhur dan orang tua kamu.” Ketika dia melihat kuburan leluhur dan orang tuanya, dia tidak dapat membendung kesedihannya lagi, dia menangis dengan sedih, tetapi temannya yang berdiri disebelahnya malahan tertawa terbahak-bahak.

Dia sangat marah berkata kepada temannya, “Selama belasan tahun ini saya merindukan kampung halaman saya, hari ini setelah sampai disini, melihat rumah adat leluhur yang reyot, serta kuburan dari leluhur dan orang tua yang tak terurus, tahukah engkau saya merasa sangat sedih? Kenapa engkau tega menertawakan saya!”

Temannya berkata, “Aduh! Saya hanya bercanda dengan anda! Tempat ini sama sekali bukan negara Yan.” Setelah mendengar perkataan temannya, kesedihannya langsung sirna, didalam hati berkata, “Ini bukan kampung halaman saya, kenapa saya harus menangis demikian sedih?”

Mereka berdua melanjutkan perjalanan, setelah beberapa hari berlalu, mereka benar-benar sudah sampai di negara Yan, dia melihat rumah adat mereka, dan melihat kuburan leluhur dan orang tuanya, tetapi pada saat ini dia tidak merasakan apa-apa lagi, dia sangat tenang menerima kenyataan.

Kebanyakan orang dalam kehidupan sehari-hari, tidak tahan kepada godaan lingkungan merasa cemas dan tidak aman, tidak dengan cermat memperhatikan keberadaan orang serta benda disekitarnya, seperti orang diatas yang merindukan kampung halamannya, hanya berdasarkan beberapa perkataan yang diucapkan temannya, tidak dapat mengontrol emosinya menangis dengan sedih, manusia biasanya dikuasaikan oleh emosi yang berasal dari dampak ekternal, mereka tidak mengerti bahwa semua ini adalah sumber akal dari kecemasan tersebut. Bagaimana dapat menenangkan dan mengontrol kecemasan tersebut? Semua ini tergantung kepada hati manusia itu sendiri. (hui/ch)

Sumber: http://erabaru.net/cerita-budi-pekerti/71-cerita-budi-pekerti/29538-kampung-halaman-kampung-halaman-

Read more...
 
Kyd The Phantom © 2011 DheTemplate.com & Main Blogger. Supported by Makeityourring Diamond Engagement Rings

Kyd The Phantom Will Never Be Discovered